Pembatasan Internet di Sekolah

December 14, 2009 § 28 Comments

“ Ji, udah dikopi belom makalah yang kemarin? Kita besok presentasi kan! Pake OHP.. Daripada kita tulis capek-capek mending kita kopi aja.”

” Oke deh, tapi mahal banget ge. Seribu satu halaman”

” Waduh, seribu? Kita ada berapa halaman?”

” Dua puluh.”

” Sial” Percakapan itu terjadi waktu saya masih seorangsiswa di SMP 41 Jakarta. Kira-kira 5 tahun yang lalu. Percakapan itu terjadi saat saya, dan teman saya, sedang membicarakan slide presentasi kami untuk sebuah tugas sekolah. 5 tahun lalu, yaitu 2004, memang Microsoft Power Point telah ditemukan. Tapi sekolah kami agaknya kurang melek teknologi saat itu. Sehingga kami masih menggunakan OHP (Over Head Projector), yang biaya pembuatan transaparansi nya saja sudah seribu per halaman. Sungguh menguras dompet kami.

Itu 5 tahun lalu, bagaimana dengan sekarang? Wow, lihat! Semua sudah berubah. Kemajuan teknologi informasi sangat terasa di sekolah-sekolah di daerah Jakarta, terutama sekolah yang berlabel ‘Unggulan’, ‘Mahal, dan ‘Kelewat Mahal’. Bukan hal aneh lagi melihat seorang anak SD menggenggam BB sebagai alat komunikasi nya, tidak terkejut lagi para siswa SMP SMA menenteng laptop di tangan kanan, dan iPod di tangan kirinya. Belum lagi sekolah yang mendukung kemajuan teknologi ini. Wifi, bisa dinikmati di beberapa sekolah. Hebat bukan?

Dengan sarana dan prasarana yang sudah sedemikian mendukung, sungguh sangat disayangkan jika hanya dimanfaatkan untuk hal yang tidak perlu. Contohnya, wifi. Berapa banyak siswa yang membawa laptop, menggunakannya untuk browsing mencari tugas? Sedikit. Bandingkan dengan mereka yang membuka situs-situs sosial networking yang memang sedang digandrungi anak muda jaman sekarang. Sungguh ironis. Alangkah baiknya, jika fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan dengan benar. Tentunya sekolah-sekolah tidak ingin, biaya pemasangan internet dan wifi di wilayahnya yang cukup mahal terkuras hanya untuk chatting di Facebook, dan berbalas Tweet di Twitter. Pastinya, sulit mencegah hal ini terjadi, apalagi memang Facebook menjadi situs terbanyak yang dibuka di Indonesia, mengalahkan Google. Hebat bukan?

Oleh karena itu saya memiliki beberapa saran, agar internet yang telah dibayar mahal oleh sekolah, tidak terbuang percuma. Yaitu: Pemblokiran situs tertentu saat jam pembelajaran. Yap, sejauh ini cara ini lah yang paling efektif untuk mencegah agar situs-situs tertentu tidak dapat diakses siswa secara bebas, dalam waktu belajar. Meskipun akan menimbulkan beberapa protes dari siswa, itu hal biasa.

Pemberian tugas online

Pemberian tugas online? Apa maksudnya? Yap. Buat siswa lebih aktif di dunia maya. Upload tugas-tugas untuk siswa ke layanan file hosting yang banyak tersedia di sana. Sehingga siswa mau tidak mau akan selalu mendownload file tugas dari guru melalui internet.

Tugas harian: mencari topik tertentu di internet

Agak bingung memang kenapa pencarian sebuah topik di internet bisa mengurangi pemakaian tak berguna. Logika nya kayak gini, kalau seorang siswa tiap harinya diberi sebuah topik khusus, dan mereka diwajibkan untuk mempresentasikan nya esok hari, tentu mereka akan menghabiskan waktunya untuk searching saja. Tidak akan ada waktu lagi untuk membuka situs-situs lainnya, setidaknya di sekolah. Contohnya: searching video di YouTube, artikel di google, atau buku di Google Reader.

Pembatasan waktu pemakaian internet

Ini yang paling penting, waktu sekolah umumnya adalah dari pukul 07.00 hingga 15.00 setelah itu ada kegiatan masing-masing dari siswa. Entah mengerjakan tugas, ekskul, dll. Oleh karena itu, hendaknya internet hanya bisa diakses (dimatikan) sejak pukul 06.30 – 17.00. Membuang uang bila dinyalakan sepanjang hari, karena toh tidak ada yang memakai. Malah nantinya kemungkinan bisa jaringan anda bisa dijebol oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Hukuman

Berikan hukuman bagi mereka yang membuka situs yang tidak relevan terhadap proses belajar mengajar. Termasuk para guru. Jangan ada pilih kasih antara guru dan siswa dong. Masa siswa ga boleh buka yang macem-macem, tapi guru nya di depan lagi ketawa-ketiwi membuka facebook. Wah diskriminasi itu.

Ya, sekiranya itu yang bisa dilakukan sekolah-sekolah untuk memastikan bahwa biaya yang mereka keluarkan tidak terbuang percuma. Sangat disayangkan apabila uang mahal yang telah digelontorkan hanya digunakan untuk membuka situs-situs yang tidak berkaitan dengan proses belajar mengajar. Tentunya mudah-mudahan ini bisa menjadi salah satu masukkan ya. Karena, ga cuma siswa kok, kadang guru-gurunya juga nakal. Bukannya ngajar malah buka facebook, twitter, dsb. 😀

Advertisements

Tagged: ,

§ 28 Responses to Pembatasan Internet di Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pembatasan Internet di Sekolah at a ranger's daily life..

meta

%d bloggers like this: