Seperti di London.

February 28, 2011 § 10 Comments

Hari ini, Senin 28 Februari 2011. Hari terakhir di bulan Februari. Artinya, selamat tinggal kepada bulan penuh cinta. Artinya, selamat tinggal promo-promo cokelat bermerek. Artinya, selamat tinggal deretan film-film penuh cinta di televisi lokal. Ah sudah, toh tahun depan juga Februari datang lagi.

Senin ini, saya dibangunkan oleh suara turunnya hujan di pagi hari. Jujur, saya suka suasana ini. Rasanya waktu berjalan lambat saat itu. Rasanya, seperti Minggu pagi. Ah, tapi ini hari Senin. Hari paling dibenci hampir seluruh manusia di dunia. Tapi saya tidak – setidaknya pagi tadi – seperti mereka. Saya suka Senin pagi. Saya suka Senin pagi, saat hujan turun.

Dan ternyata hujan itu tak kunjung berhenti. Di mulai pagi hari, ketika bangun tidur, ketika menyaksikan Oscar melalui streaming menggunakan koneksi butut salah satu ISP milik pemerintah (mudah-mudahan ga kena undang-undang), hingga saat saya harus pergi ke beberapa rumah sakit di sekitar rumah untuk survey biaya operasi. Hujan seakan tahu, semua orang di hari Senin butuh ketenangan, ketentraman. (jangan masukkan kemacetan JKT karena hujan)

Cuaca ini membuat saya lalu meracau, “Mungkin London seperti ini.”. Ya, London adalah salah satu kota yang sangat ingin saya kunjungi. Konon katanya, di sana cuacanya dingin sepanjang tahun. Bahkan saat terlihat matahari, cuaca tetap dingin. Ya, mirip seperti Depok hari ini ya. Lebay sih, tapi, ya positive thinking aja. Mungkin Yang Di Atas ingin sedikit memberikan contoh, gini-loh-rasanya-di-London.

Tidak tahu sejak kapan saya mulai terobsesi pada Inggris. Mungkin sejak saya memutuskan pindah hati dari AC Milan ke Manchester United, kelas 1 SMA. Mungkin sejak saya menyaksikan rangkaian seri Harry Potter yang berlatar belakang di Inggris. Mungkin sejak saya tahu Emma Watson adalah orang Inggris. Mungkin sejak saya tahu The Script, Keane, dan pastinya, The Beatles datang dari Inggris. Sejak kapanpun itu, saya terobsesi pada Inggris, London, dan Manchester (dan Emma Watson).

Mungkin Senin kalian tidak sesempurna Senin saya. Tidak mengapa. Dunia itu bundar, mungkin minggu depan Senin saya tidak sesempurna kalian. Who knows? London knows.

 

 

 

Advertisements

Tagged:

§ 10 Responses to Seperti di London.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seperti di London. at a ranger's daily life..

meta

%d bloggers like this: