Saya, Apple Bites, dan Steve Jobs.

October 7, 2011 § 10 Comments

Salah satu hal pertama yang selalu saya lakukan saat bangun pagi, adalah memeriksa Blackberry. Pagi kemarin, satu BBM dari teman cukup membuat saya langsung melek. Steve Jobs, meninggal. Berita ini terlalu sulit diterima bagi seorang remaja yang jiwanya belum terkumpul 100%. Setelah membaca BBM dari teman, saya langsung membuka Twitter untuk menguji kebenaran berita itu (entah sejak kapan twitter menjadi salah satu sumber berita terpercaya). Dan benar saja, timeline sudah ramai membicarakan Steve.

Steve Jobs, is amazing. Enough said. Mungkin, sampai kapanpun, setiap kali saya melihat produk Apple, entah itu iPod, iPad, iPhone, Macbook, apapun itu, dapat dipastikan hanya ada satu nama terlintas. Steve Jobs. Tak lama setelah berita kematian Steve Jobs menyebar, beberapa teman saya di twitter mulai ramai membicarakannya. Tentu, bicara tentang Steve Jobs tidak akan bisa lepas dari produk-produknya di Apple.

my #applebite

For years, saya memimpikan memiliki sebuah gadget produksi Apple. For years, setiap saya jalan ke mall-mall, saya selalu mencari apakah ada Apple retailer Store di sana. Bukan, bukan untuk membeli. Tapi hanya untuk sekedar masuk, bermain iPod Touch, bermain dengan Macbook Pro, sok-sok bertanya pada pelayan di sana, dan menunggu saat di mana saya dilirik sinis oleh satpam dengan maksud mengusir. For years, setiap saya membuka browser, website pertama yang saya buka, adalah Apple.com (stlh mengganti homepage Google Chrome yg defaultnya Google.com). Teman-teman di sekolah dan kampus bahkan sudah menjuluki saya Apple Fanboy sebelum saya punya satupun produk Apple, hanya karena saya sering membuka websitenya. Terlalu dini memang. Tapi saya yakin bahwa ucapan itu doa, someday saya pasti bisa memiliki produk-produk Apple yang saat itu, out-of-reach.

“Sebelum umur 20, harus sudah punya at least satu produk Apple.” – Gelar, 2009.

Mungkin Anda akan berkata, “Punya mimpi kok beli gadget? Cetek banget.”. Well, bila Anda menempatkan diri di posisi saya, mungkin Anda akan berkata lain. Produk Apple buat saya bukan cuma sekedar pemutar musik, game player, dan laptop. It’s my biggest temptation, that day. Seorang mahasiswa yang uang saku hariannya tidak sampai sepuluh ribu rupiah, berani bermimpi untuk memiliki gadget jutaan rupiah. Obsesi dan ketertarikan saya yang (mungkin) berlebihan inilah yang membantu saya maju. Akhir tahun pertama kuliah, saya mulai mencari-cari pekerjaan sampingan. Tujuannya cuma satu, beli iPod Touch 3rd Gen. Simple, dan cetek. Tapi itu salah satu alasan dan motivasi saya bisa bergerak. Namun ternyata Tuhan berkata lain..

Alih-alih dapat iPod Touch, gadget Apple pertama saya justru sebuah iPod Shuffle (mid 2010). Jenis iPod yang paling murah harganya, tidak memiliki layar untuk menampilkan musik dan cover album seperti iPod Nano. Kalau tidak salah, saat itu harga normalnya berada di kisaran Rp 600.000,-. Tapi saya beli hanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 300.000,- (kalau tidak salah). Jaman itu, nominal uang sebesar itu tentu tidak mudah untuk saya dapatkan. Tapi peduli apa, setidaknya satu resolusi saya sebelum menginjak usia 20 sudah terpenuhi. Satu kepuasan batin terpenuhi saat memegang box kecil berukuran box rokok itu. Segel sudah dibuka, karena itu barang secondhand. Hampir 10 menit saya menatap box yang, menurut saya, memiliki desain dan, it’s just perfect. Bosan ngeliatin box, akhirnya saya memberanikan diri membukanya. Saya ambil earphone bawaan dari Apple (yg menurut saya overprice, krn kualitasnya buruk), saya colokkan ke iPod Shuffle. Dan saya mulai mendengarkan lagu di dalamnya. Tidak ada yang spesial dari kualitas lagu iPod. Tapi fitur-fitur dan bagaimana ia memudahkan saya dalam mendengarkan lagu-lah yang membuatnya spesial. Dan, sekali lagi, it’s Apple, it’s my obsession.

Seseorang berkata, “Langkah pertama itu yang paling berat.”. True. Setelah memiliki iPod Shuffle, berselang 2-3 bulan, akhirnya saya memiliki iPod Touch (late 2010). Senang bukan main. Momen #firstapplebites saat iPod Shuffle rasanya terulang kembali. Begitu juga saat saya membeli Macbook Pro (early 2011) dan iPad 2 (middle 2011). Momen saat meng-unbox produk Apple, adalah pengalaman yang tak terlupakan. Perasaan gembira, senang, terharu, tak sabar menggunakan, dan tak percaya campur aduk jadi satu. Terlebih seluruh gadget Apple yang saya beli adalah hasil memeras keringat sendiri. Hasil setiap peluh yang jatuh di tengah kemacetan Jakarta. Hasil setiap detik yang saya ‘buang’ untuk bekerja, bukannya bermain. Tiada yang lebih menyenangkan, menggembirakan, dari mencapai obsesimu, dengan keringat sendiri.

After all, Steve Jobs dan Apple memang nggak bisa dipisahkan. Alasan kenapa saya begitu terobsesi pada Apple, semua bermuara pada satu otak. Steve’s. Saya tidak pernah menunggu presentasi dan media launch dari Nokia, Samsung, atau bahkan Microsoft. Tapi Apple, lain cerita. Hampir seluruh keynote Steve sejak tahun 2007 saya saksikan langsung, entah melalui live streaming, atau sekedar live blog. The way he presents things, just perfect. The way he thinks, just different. The way he die, just legendary.

RIP, Steve.

Advertisements

§ 10 Responses to Saya, Apple Bites, dan Steve Jobs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Saya, Apple Bites, dan Steve Jobs. at a ranger's daily life..

meta

%d bloggers like this: